Indonesia | English Halaman Depan | Lokasi | Sejarah Pengelolaan
PENGELOLAAN

Program Pengelolaan

Program Pengelolaan Badak Jawa Terpadu

Program ini akan menghasilkan suatu informasi mengenai database sumberdaya alam di Taman Nasional Ujung Kulon yang berkaitan dengan Badak Jawa, informasi mengenai daya dukung Badak Jawa dalam rangka mempertahankan keberadaan Badak Jawa dan ekosistemnya.

Pengelolaan Badak Jawa dilakukan di Semenanjung Ujungkulon seluas 38.543 ha. Pengelolaan ini harus didasarkan pada pengetahuan yang luas terhadap ekologi Badak Jawa, terutama populasi, perilaku dan dinamika habitatnya. Maka semua kegiatan yang perlu dilakukan pada program ini adalah yang berkaitan dengan Badak secara terpadu sehingga apabila keberadaan Badak Jawa dapat dipertahankan, maka sekaligus seluruh isi habitat dan ekosistemnya dapat terjamin.

Kegiatan :

  1. Sensus Badak Jawa Tahunan
    Kegiatan sensus Badak Jawa ini dilakukan setiap tahun. Metode yang digunakan adalah penghitungan jejak pada transek/jalur pengamatan yang permanen (tercatat dengan baik titik koordinatnya). Di seluruh Semenanjung Ujung Kulon terdapat 15 transek yang tembus dari Utara ke Selatan, yang secara konsisten akan dipakai pada tiap sensus. Diharapkan dengan konsistensi metode yang digunakan dalam sensus tahunan ini, maka data trend populasi Badak Jawa akan dapat diperoleh.

  2. Kamera Perangkap (Photo Trap)
    Metode ini telah dilakukan oleh TN. Ujung Kulon bekerjasama dengan WWF untuk sensus Badak Jawa. Metode ini akan memberikan kontribusi berarti dalam memantau perkembangan populasi Badak Jawa secara visual. Kelebihaan metode ini antara lain mampu mengenali individu Badak Jawa jantan dan betina, dewasa dan muda. Identifikasi individu dengan kamera perangkap akan memberikan data untuk menganalisis struktur populasi sekaligus pendugaan kecenderungan perkembangan populasi untuk satu generasi yang akan datang. Membandingkan hasil sensus metode ini dengan metode analisis DNA dan penghitungan jejak akan bermanfaat untuk evaluasi akurasi dan efektivitas masing-masing metode.

  3. Analisis Genetik Badak Jawa
    TN. Ujung Kulon bekerjasama dengan WWF juga melakukan Aplikasi analisis DNA melalui kotoran. Analisis DNA merupakan suatu metode yang tepat digunakan dalam studi populasi satwa- satwa sensitif dan mudah mengalami stress seperti Badak Jawa.
    Teknik ini hanya mengumpulkan kotoran untuk menganalisis sel- sel epitel usus yang ikut keluar bersama kotoran. Sel-sel ini mengandung informasi genetik yang kemudian diisolasi guna mendapatkan sidik DNA masing-masing individu. Karakteristik individual seperti jenis kelamin, hubungan kekerabatan satu individu dengan individu lainya, heterosigositas, inbreeding depression, sistem perkawinan dan agihan ruang per individu dapat diketahui.

  4. Studi Ketersediaan Pakan
    Dinamika vegetasi di Semenanjung Ujung Kulon memiliki efek langsung terhadap Badak Jawa. Perlu segera diketahui apakah sumber pakan merupakan faktor pembatas perkembangan populasi Badak. Ini akan sekaligus untuk menjawab apakah daya dukung habitat Badak Jawa telah terlampaui.

    Jika studi ketersediaan pakan menunjukkan bahwa pakan Badak Jawa memang merupakan faktor pembatas perkembangan populasi, tentunya perlu diadakan tindakan manipulasi habitat Untuk itu, sebelumnya harus diketahui faktor apa saja yang membatasi pertumbuhan tumbuhan pakan badak. Tim peneliti IPB menduga faktor utamanya adalah invasi langkap. Invasi lankap di Semenanjung Ujung Kulon tentunya membuat beberapa jenis tumbuhan pakan tersingkir.

  5. Studi Kompetisi Badak Jawa dan Banteng
    Sehubungan dengan ketersediaan pakan Badak Jawa yang terbatas, kompetisi Badak dan Banteng merupakan satu isu yang perlu diuji. Tingkat kompetisi di antara dua satwa ini harus dijawab melalui studi tersendiri. Data sebaran dan bekas makan Badak Jawa dan Banteng yang dikumpulkan oleh RMPU Ujung Kulon akan menjadi data sekunder studi kompetisi. Pertanyaan yang akan dijawab ialah (1) Sejauh mana terjadi tumpang tindih sebaran Badak Jawa dan Banteng? (2) Berapa persentase tumpang tindih individu dan spesies tumbuhan yang dikonsumsi badak dan banteng pada tahun yang sama? (3) Apakah terjadi kompetisi di antara badak Jawa dan banteng, dan bagaimana?
    Dalam melakukan kegiatan ini TN. Ujung Kulon bekerjasama dengan IPB, WWF dan YMR.

  6. RMPU (Rhino Monitoring and Protection Unit)
    Unit ini akan memfasilitasi para petugas jagawana untuk berfungsi optimal, baik dalam hal pengamanan maupun pemantauan status populasi badak Jawa dan banteng serta perubahan habitat Badak Jawa. Di Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat Badak Jawa, terdapat 3 unit RMPU yang bertugas secara bergiliran. Tiap unit terdiri dari seorang kepala unit, 2 orang jagawana, 1 orang LSM dan 1 orang masyarakat lokal.

  7. Pengelolaan Habitat
    Berdasarkan penelitian pendahuluan yang mengindikasikan adanya invasi langkap di habitat Badak yang mengurangi tumbuhnya pakan Badak, serta adanya kecenderungan kompetisi antara Badak dan Banteng, maka dilakukan pengelolaan habitat, baik untuk Badak maupun padang penggembalaan untuk Banteng.
BERITA TERBARU
17 Desember 2008
TNI DAN RAKYAT MENYELAMATKAN TNUK Firman Allah kujadikan manusia sebagai khalifah di bumi Kalau kamu berpikir kujadikan semua itu Merupakan tanda....
 

Web ini telah dikunjungi oleh 9107 Pengunjung