Studi Persaingan Ekologi antara Badak Jawa ( Rhinoceros sondaicus ) dan Banteng ( Bos javanicus )

Sectionov, S.Hut Dkk,

Yayasan Mitra Rhino, Bogor (2001)

Kawasan Ujung Kulon merupakan habitat yang cocok untuk Badak Jawa dan Banteng karena menyediakan kebutuhan spesies tersebut baik jenis pakan, tempat berlindung, air, mineral maupun tempat berhubungan sosial. Akan tetapi beberapa temuan-temuan di lapangan dari beberapa peneliti menunjukkan adanya indikasi persaingan Badak Jawa dan Banteng. Kondisi persaingan ini baik secara langsung maupun tidak langsung tentunya akan mempengaruhi kehidupan Badak Jawa sebagai Primadona TNUK. Yayasan Mitra Rhino (YMR) bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF) mengadakan serangkaian penelitian di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dengan tujuan umum untuk menduga ada tidaknya persaingan antara Badak Jawa dan Banteng dilihat dari sudut pandang ekologi sebagai data dasar untuk panduan pengelolaan habitat di TNUK. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah populasi Badak Jawa dan Banteng (padang Penggembalaan dan hutan), mengetahui komposisi vegetasi, keanekaragaman jenis dan tumbuhan pakan, menduga nilai palatabilitas pakan badak jawa dan banteng, menduga nilai indeks volume pakan Badak Jawa dan Banteng serta menduga nilai biomassa, produktivitas tumbuhan pakan badak jawa dan banteng serta daya dukung habitatnya.

Metode yang digunakan untuk inventarisasi Badak Jawa yaitu dengan penelusuran jalur lintasan (transek) dan pencarian jejak. Banteng diinventarisasi dengan metode terkonsentrasi dan metode transek. Sedangkan inventarisasi tumbuhan dilakukan dengan cara penarikan petak contoh.

Dari hasil penelitian diketahui jumlah populasi banteng di padang penggembalaan Cidaun sebanyak 27 ekor, Cibunar 4 ekor, Cigenter 10 ekor dan Nyiur 17 ekor. Populasi Badak Jawa pada saat ini sekitar 40-60 ekor. Dari hasil analisis vegetasi di padang penggembalaan Cidaun ditemukan sebanyak 19 jenis yang terdiri dari 12 jenis rumput, dan 7 jenis bukan rumput dengan jenis yang mendominasi adalah Domdoman. Di padang penggembalaan Cibunar terdapat 13 jenis yang terdiri dari 11 jenis rumput dan 8 jenis bukan rumput dan didominasi Domdoman. Dan di padang penggembalaan Nyiur ditemukan 13 jenis yang terdiri dari 6 jenis rumput dan 7 jenis bukan rumput dan jenis yang mendominasi adalah susuukan. Adapun keanekaragaman jenis tertinggi terdapat di padang penggembalaan Nyiur.

Hasil analisis tumbuhan pakan Badak Jawa dan Banteng sebanyak 109 jenis, 97 jenis pakan badak jawa dan 74 tumbuhan jenis pakan banteng. Sementara 62 jenis merupakan pakan overlap badak jawa dan banteng.

Ada zona penyebaran jejak banteng, langkap dan rotan seel mempunyai nilai palatabilitas tertinggi. Pada jejak badak jawa, rotan seel dan sayar mempunyai nilai palatabilitas tertinggi. Sedangkan pada daerah overlap, sulangkar merupakan pakan yang paling disuaki oleh badak jawa dan sayar adalah jenis pakan yang disukai banteng.

Potensi pakan potensial pada zona penyebaran jejak banteng sebesar 194.39 kg/ha dengan potensi pakan aktual 55.56 kg/ha. Pada zona penyebaran badak jawa, potensi pakan potensial sebesar 1209.985 kg/ha dengan potensi pakan aktual sebesar 615,035 kg/ha. Pada daerah overlap, potensi pakan potensial untuk badak jawa sebesar 607.588 kg/ha dengan potensi pakan aktual 331.025 kg/ha. Sedangkan untuk banteng, potensi pakan potensial sebesar 402.896 kg/ha dengan potensi pakan aktual 204.321 kg/ha.

Nilai indeks volume pakan untuk zona penyebaran jejak badak jawa dan daerah overlap teridentifikasi sebanyak 84 jenis tumbuhan dengan model persamaan indeks volume 142 persamaan. Sedangkan model pendugaan nilai volume pakan banteng dan daerah overlap teridentifikasi sebanyak 65 jenis tumbuhan dengan model persamaan sebanyak 130 persamaan. Rata-rata bagian tumbuhan ( ranting atau daun) yang dimakan badak jawa dan banteng masing-masing sebesar 0.76 dan 0.52.

Daya dukung banteng di Cidaun sebanyak 13 ekor, Cibunar sebanyak 8 ekor, Cigenter sebanyak 3 ekor dan Nyiur sebanyak 1 ekor. Daya dukung untuk setiap zona jika tidak terjadi persaingan untuk zona penyebaran jejak banteng nilai daya dukung sebanyak 382 ekor dan badak jawa dianggap 0. Pada zona penyebaran jejak badak jawa nilai daya dukung 12 ekor dengan mengabaikan jumlah banteng. Daya dukung habitat jika terjadi persaingan pada setiap zona penyebaran maka zona penyebaran banteng sebanyak 64 ekor, badak jawa 10 ekor. Pada zona penyebaran badak jawa nilai daya dukung 10 ekor dan banteng 61 ekor. Sedangkan nilai daya dukung daerah overlap untuk badak jawa 47 ekor dan banteng 279 ekor.

 

 

 

Back | Top | Halaman Depan