Monitoring Penyuntikan Langkap (Arenga obtusifolia)
di Cimahi Resort Gunung Honje, Taman Nasional Ujung Kulon
Oleh : YMR, 2005
Tujuan dari penelitian ini adalah memantau/monitoring dalam menganalisa hasil teknik penyuntikan dengan menggunakan bahan aktif isopropylammonium glyphosate, Triklofir, dan Metsulfuron metil berdasarkan pertimbangan aspek ekologis dan alokasi waktu dalam upaya menekan laju invasi langkap.
Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan cara menyuntikkan bahan pembasmi terhadap tegakan Langkap di luar kawasan Semenanjung Ujung Kulon, yaitu wilayah Cimahi pada koordinat 06º49'19,7” LS, dan 105º31'36,0”BT, pengawasan Resort Gunung Honje Taman Nasional Ujung Kulon.
Hasil identifikasi tumbuhan pada plot contoh didapatkan jumlah jenis sebanyak 23 jenis. Langkap (Arenga obtusifolia) merupakan tumbuhan yang sangat mendominasi pada tingkatan pertumbuhan semai, pancang dan tiang, selain itu terdapat pula tumbuhan lainnya seperti salam (Eugenia polyantha), Kiara (Ficus sp.), hata (Lygodium circinantum), areuy kawao (Derris tyorsifolia) dan Sulangkar (Leea sumbucina). Berdasarkan hasil pemantauan tidak ada perubahan yang nyata terhadap jumlah jenis tumbuhan, bahkan terjadi penambahan jumlah individu pakan Badak Jawa di dalam plot contoh walaupun perlakuan penyuntikan terhadap Langkap dapat mematikan.
Penyuntikan tegakan Langkap dengan bahan aktif Isopropylammonium glyphosate, metsulfuron metal, triklopyr, dosis 7 ml, 14 ml, dan 28 ml dengan tiga kali ulangan. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap derajat kematian, ketiga bahan dengan dosis yang berbeda terhadap 27 tegakan Langkap, bahan aktif Isoprpylammonium glyphosate adalah yang paling berpengaruh dan efektif dalam menekan laju invasi Langkap. Tegakan Langkap yang disuntik dengan bahan aktif Isopropylammonium glyphosate terlihat mati (9 tegakan) bahkan sampai roboh. Sementara 18 batang lainnya yang disuntik dengan menggunakan bahan triklopyr dan metsulfuron metal tetap hidup walaupun ada beberapa tegakan Langkap yang mati karena tertimpa pohon tumbang. Hasil kegiatan pemantauan dari enam bulan pertama pasca penyuntikan (Pantau I bulan Maret 2004) sampai pada pemantauan ke IV (Desember 2004), kematian meningkat pada tegakan Langkap yang disuntik Isopropylammonium glyphosate. Tingkat kematian tersebut bertahap, diawali mengeringnya pelepah, lalu pelepah tersebut jatuh, batang keropos, kemudian roboh dan melebur dengan tanah. Sedangkan untuk tegakan Langkap dengan perlakuan penyuntikan menggunakan bahan aktif triklofir dan metsulfuron metal sebagian pelepah yang jatuh dan kering pada tahapan pemantauan sebelumnya sudah terlihat segar, ditumbuhi beberapa tunas sebagai pelepah baru serta penampakan batang yang terlihat kokoh. Hal ini diduga karena pengaruh zat pembasmi yang bersifat organic akan cenderung netral apabila sudah bercampur dengan air.
Waktu efektif penyuntikan sehingga dapat mempengaruhi tingkat kematian Langkap terjadi pada pemantauan III (sembilan bulan pasca penyuntikan) bukan pada pemantauan IV, hal ini terlihat dari selang kepercayaan (R Squared) yang lebih tinggi dari analisis statistic yang dilakukan, hasil pengujian laboratorium terhadap tanahpun menunjukkan pada pemantauan III sudah tidak terdapat kandungan residu dalam tanah, sehingga pada pemantauan IV tidak lagi dilakukan analisis laboratorium pada tanah.
Back | Top | Halaman Depan