Inventarisasi, Identifikasi dan Pemetaan Potensi Wanafarma (Jawa Barat : TN. Ujung Kulon, TN. Gunung Halimun, TN. Gede Pangrango, HL. Gunung Salak)
Kerjasama Deartemen Kehutanan dan Perkebunan dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor 2000
Kekayaan tumbuhan obat di hutan tropis Indonesia mencapai lebih dari 1260 jenis tumbuhan. 180 jenis diantaranya saat ini dieksploitasi dari hutan untuk bahan baku industri obat tradisional. Keanekaragaman potensi sumber daya wanafarma belum dikelola dan dan belum banyak dilakukan inventarisasi dan identifikasi berikut pemetaannya, terutama di kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data dasar mengenai potensi kawasan hutan wanafarma, data keanekaragaman tumbuhan obat, khasiat/manfaat, pembuatan peta persebaran kawasan wanafarma, jenis tumbuhan obat unggulan pada kawasan wanafarma serta rekomendasi pengembangannya. Metode yang digunakan adalah studi literatur, survey lapangan, interpretasi citra landsat, analisis data dan pembuatan peta.
Pada kawasan wanafarma di TN. Ujung Kulon ditemukan tumbuhan obat sebanyak 280 jenis dan 102 famili. Berdasarkan habitus, dibedakan menjadi 7 yaitu : habitus bambu, pemanjat, herba, liana, perdu, pohon, dan semak. Tumbuhan obat dengan habitus pohon mempunyai jumlah jenis dan famili yang lebih tinggi. Dilihat dari bagiannya, daun merupakan bagian yang paling banyak yang digunakan sebagai obat, bagian yang jarang adalah umbut, minyak, nira, kecambah dan abu kayu. Berdasarkan kelompok penyakit/penggunaan, dibedakan menjadi 25 kelompok. Penggunaan tumbuhan obat tertinggi adalah pada penyakit saluran pencernaan (113 jenis tumbuhan), dan terendah untuk patah tulang (3 jenis tumbuhan).
Back | Top | Halaman Depan